PURWOREJO, himawan.org – Di banyak kesempatan, KH. Achmad Chalwani Nawawi dari Berjan, Purworejo, kerap membagikan sebuah doa berbahasa Jawa yang terdengar sederhana, unik, bahkan terkesan nyentrik.
Namun jangan keliru. Doa ini bukan doa sembarangan. Di kalangan nahdliyin, doa tersebut sudah lama dikenal dan diamalkan.
Doa yang diijazahkan itu berbunyi:
“Allahumma Ubat-ubet, Biso Nyandang, Biso Ngliwet. Allahumma Ubat-ubet, Mugo-mugo Pinaringan Slamet”
“Allahumma Kitra-kitri, Sugih Bebek, Sugih MeriAllahumma Kitra-Kitri, Sugih Sapi, Sugih Pari”
Dalam keterangannya, KH. Achmad Chalwani menyebut, doa berbahasa Jawa ini beliau terima langsung dari KH. Ahmad Abdul Haq Dalhar Watucongol, Magelang yang lebih masyhur dengan sebutan Mbah Mad. Doa itu sendiri diwariskan turun-temurun, dari ayahandanya, KH. Dalhar Watucongol.
Ada kisah menarik di balik doa berbahasa Jawa ini. Saat mengaji di Lirboyo, KH. Chalwani pernah mendapat nasihat dari gurunya:
“Ketika saya ngaji di Lirboyo, guru saya KH. Idris bilang begini: Kamu itu kalau dapat ijazah doa dari kiai-kiai yang pakai bahasa Jawa, kamu yang mantap. Itu kiai-kiai tidak mengarang sendiri kok doa-doa Jawa itu. Kiai-kiai ijazah dari para wali. Wali pun tidak mengarang sendiri, tidak menyusun sendiri. Wali itu ijazah dari Nabi Khidzir,” terang KH. Chalwani seperti dikutip NU Online.
Menurut KH. Chalwani, Nabi Khidzir hingga kini masih hidup dan menguasai berbagai bahasa di dunia. Karena itu, ketika bertemu wali dari Jawa, ijazah diberikan dengan bahasa Jawa. Bertemu wali Madura, bahasanya Madura. Begitu pula dengan wali dari berbagai penjuru di belahan dunia.
“Maka doa dari Mbah Dalhar ini, ini juga dari Nabi Khidzir. Syekh Mahmud, Plumbon, Cirebon menyusun kitab, menerangkan: kiai-kiai di Jawa yang sering bertemu Nabi Khidzir diantaranya disebutkan disitu ada Mbah Dalhar Watucongol, Kiai Mustajab, Gedong, Prambon, Nganjuk dan masih banyak lagi,” ungkapnya.
Oleh karenanya, doa Jawa tersebut bukan hanya sekadar rangkaian kata. Ijazah doa tersebut adalah warisan doa para wali hingha Nabi Khidzir. Sederhana bunyinya, mudah diucapkannya, dalam maknanya, dan panjang sanad keberkahannya.